Sabtu, 16 Januari 2010

Vaksin Meningitis Meningokokus

Vaksin Meningitis Meningokokus Tetravalen bagi Jemaah Haji Indonesia
MULJADI PRIJANTO* DAN YUSHARMEN**
*Puslitbang Pemberantasan Penyakit, Badan Litbangkes.,Depkes RI
** Dit EPIM dan Kesma, Dirjen P2M & PLP, Depkes RI
Pendahuluan
Meningitis meningokokus adalah penyakit radang selaput otak dan selaput sumsum tulang yang terjadi secara akut dan cepat menular. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Neisseria meningitidis, yang terdiri dari banyak serogrup dan yang sering menyebabkan penyakit adalah serogrup A, B ,C, Y, dan W-135. Gejala klinis penyakit ini adalah demam (panas tinggi) mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, kaku kuduk, ketahanan fisik melemah, dan kemerahan di kulit. Pada keadaan lanjut, kesadaran menurun sampai koma serta terjadi perdarahan echymosis.
Berkumpulnya populasi yang besar seperti jemaah haji dari berbagai negara di Arab Saudi, dapat merupakan penyebaran kuman dan penyakit , sehingga pemberian vaksinasi merupakan upaya yang penting dalam memberikan perlindungan kesehatan jemaah haji. Saat ini, pada semua jemaah haji diberikan imunisasi meningitis meningokokus sebelum berangkat ke Arab Saudi. Vaksin meningitis yang digunakan adalah vaksin bivalen yang terbuat dari kuman N. meningitidis serogrup A dan C.
Bila ditemukan jemaah haji menderita atau diduga menderita meningitis di Rumah Sakit Arab Saudi, maka semua orang kontak penderita dalam kloter diberi kemoprofilaksis untuk mencegah terjadinya penularan. Mulai 1994, telah dilakukan pemeriksaan usap nasofaring terhadap orang kontak dari kloter yang di dalamnya terdapat penderita meningitis meningokokus setiba di Indonesia, untuk mengcegah masuknya kuman penyebab meningitis ke Indonesia. Hasil pengamatan selama 2 tahun terakhir di Indonesia dan beberapa negara menunjukkan adanya peningkatan kasus yang disebabkan oleh serogrup W-135 .
Makalah ini akan membahas mengenai vaksin meningitis meningokokus tetravalen (quadrivalen) hasil pengamatan meningitis meningokokus pada jemaah haji di Indonesia dan negara lain, dan perlunya penggunaan vaksin tetravalen.
Vaksin Meningitis Meningokokus Tetravalen
Berbagai usaha untuk membuat vaksin meningitis meningokokus telah dilakukan. Mula-mula digunakan vaksin yang terbuat dari seluruh bakteri yang dimatikan, kemudian dibuat dari toksin yang dilarutkan, dan yang terakhir dibuat dari polisakarida (PS) dan membran protein bagian luar (outer membran protein, OMP ) dari bakteri yang digunakan saat ini.
Vaksin bersifat sel T independen dan mengandung polisakarida dari masing-masing serogrup kuman. Vaksin yang tersedia di pasaran saat ini adalah vaksin meningitis meningokokus A,C (bivalen) dan vaksin tetravalen yang terbuat dari kuman serogrup A, C, Y, dan W-135. Vaksin meningitis meningokokus grup B sampai saat ini belum tersedia.
Penambahan grup Y dan W-135 terjadi karena 20% dari kasus meningitis meningokokus disebabkan oleh serogrup tersebut.
Vaksin tetravalen yang ada saat ini mengandung 50 ug polisakarida dari masing-masing serogrup A, C, Y, dan W-135 serta diberikan melalui suntikan subkutan. Di Amerika, vaksin ini mendapat lisensi pada 1981. Selain itu, vaksin serupa dibuat di Belgia dan Perancis.
Imunogenisitas terhadap polisakarida serogrup Y dan W-135 telah dievaluasi pada orang dewasa dan anak-anak, serta diketahui dapat sebanding dengan polisakarida serogrup A dan C. Keamanan dari vaksin tetravalen terbukti tidak berbeda dengan vaksin bivalen.
Vaksin ini meningkatkan titer antibodi bakterisidal 4 kali pada orang dewasa, 3--4 minggu setelah imunisasi.
Lebih dari 90% orang dewasa memberikan respons terhadap imunisasi dengan kenaikan titer antibodi bakterisidal 4 kali atau lebih. Titer antibodi bakterisidal terhadap polisakarida Y dan W-135 naik dari kurang dari 4 kali sampai mencapai kira-kira 512 kali1.
Efikasi vaksin bivalen maupun tetravalen telah diuji di lapangan. Vaksin polisakarida dapat menginduksi kekebalan dan melindungi penyakit, tetapi pada anak-anak tergantung pada umur dan bervariasi menurut serogrupnya. Vaksin memberikan perlindungan jangka pendek, yaitu selama 3 tahun.
Penggunaan Vaksin
Di Amerika, vaksinasi hanya disarankan untuk mengotrol wabah. Vaksinasi rutin hanya dianjurkan untuk orang yang akan bepergian ke negara yang dikenal sebagai daerah epidemi atau endemis meningitis meningokokus, seperti Nepal, Arab Saudi, Kenya, dan daerah lingkar meningitis di Sub sahara Afrika.
Bila serogrup A, C, Y, W-135 diidentifikasi sebagai penyebab penyakit, di beberapa negara dianjurkan pemberian vaksinasi segera dengan vaksin bivalen atau tetravalen untuk kontak dekat penderita, dan diberikan pada umur di atas 3 bulan2.
Serogrup Kuman Meningitis yang Diisolasi dari Jemaah Haji Penderita dan Orang Kontak
Pada 1996, dalam melakukan pengamatan penyakit meningitis meningokokus, di Indonesia telah diadakan pelatihan bagi petugas laboratorium daerah. Pelatihan dilakukan di Badan Litbangkes bersama-sama dengan Puslabkes dan Ditjen P2M PLP. Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan di embarkasi/debarkasi haji masing-masing di mana terdapat penderita3.
Hasil pemeriksaan kuman pada tabel 1 menunjukkan bahwa sejak 1996 serogrup kuman yang diisolasi dari orang kontak penderita dalam kloter, meliputi semua serogrup kecuali serogrup Y.
Pada 2000, pada sampel acak dari kloter yang di dalamnya terdapat penderita meningitis, baik yang diisolasi dari pusat maupun yang berasal dari propinsi Jateng, ditemukan 10 orang pengidap (carrier) serogrup W-135. Jumlah jemaah haji Indonesia penderita meningitis pada 2000 sebanyak 14 orang. Enam orang di antaranya meninggal di Arab Saudi dengan penyebab kematian yang diduga disebabkan meningitis meningokokus serogrup W-135. Selain itu, dua orang lainnya meninggal di Indonesia tanpa sempat dilakukan pemeriksaan kuman.
Tabel 2 menunjukkan jumlah kasus meningitis meningokokus pada jemaah haji dan orang kontaknya yang dilaporkan dari berbagai negara. Tabel tersebut menunjukkan bahwa penyebab penyakit yang terbanyak adalah serogrup W-1354.
Hasil usap nasofaring 100 orang jemaah haji dari 2 kloter embarkasi Jakarta yang diambil secara acak dan diperiksa di Puslitbang Pemberantasan Penyakit yang dilakukan pada 2001, menemukan 12 orang pengidap serogrup W-135 (Tabel 1). N. meningitidis serogrup W-135 merupakan isolat yang banyak ditemukan pada pengidap jemaah haji Indonesia selama 2 tahun berturur-turut, sedangkan serogrup B tidak ditemukan.
Pada 2001, terdapat 18 orang penderita dan 6 orang jemaah haji Indonesia meninggal di Arab Saudi. Dua di antaranya disebabkan oleh serogrup W-135 (WHO). Tabel 35. Pada 2000 dan 2001, telah terjadi peningkatan jumlah penderita yang disebabkan oleh serogrup W-135 di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selama ini, beberapa negara masih menggunakan vaksin bivalen yang tidak mengandung kuman W-135.
Pertimbangan dalam Menentukan Penggunaan Vaksin Tetravalen
Sampai saat ini, Indonesia masih melakukan imunisasi meningitis meningokokus menggunakan vaksin bivalen yang mengandung kuman N. meningitidis serogrup A dan C. Meningkatnya jumlah penderita meningitis yang disebabkan oleh serogrup W-135 telah mendorong perlunya penggunaan vaksin meningitis meningokokus tetravalen. Berbagai pertimbangan yang mendasari penggunaan vaksin tetravalen untuk jemaah haji Indonesia adalah:
• Beberapa tahun terakhir ada kecenderungan meningkatnya kasus meningitis meningokokus serogrup W-135 pada jemaah haji di Indonesia dan beberapa negara lain.
• Terjadinya siklus epidemik di daerah meningitis belt Afrika.
• Banyaknya penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan ke negara Timur Tengah, yang terdiri dari jemaah haji 205.000/ tahun, umroh 80.000/tahun , dan tenaga kerja sebanyak 120.000/ tahun. Selain itu, cakupan vaksinasi terutama pada jemaah umroh dan TKI masih rendah, sehingga masih perlu ditingkatkan.
• Kementrian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi, dalam rangka mencegah penyakit meningitis meningokokus, telah mengharuskan negara-negara yang mengirimkan jemaah haji untuk memberikan vaksinasi meningitis meningokokus tetravalen pada 2002 sebagai syarat pokok dalam pemberian visa haji dan umroh.
Berbagai upaya lain telah dilakukan, yaitu evaluasi nasional haji, pembahasan, dan melakukan review terhadap produk vaksin tetravalen. Akhirnya, keputusan pemerintah mengenai kebijakan penggunaan vaksin meningitis meningokokus tetrvalen pada jemaah haji dan umroh Indonesia dilaksanakan mulai 2002.
Kesimpulan
Saat ini, jemaah haji dan umroh Indonesia mendapat vaksinasi meningitis meningokokus bivalen yang mengandung serogrup A dan C. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada 2 tahun terakhir telah terjadi peningkatan jumlah kasus dan pengidap meningitis meningokokus yang disebabkan oleh kuman serogrup W-135 pada jemaah haji Indonesia dan berbagai negara lain. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin meningitis meningokokus tetravalen yang mengandung kuman serogrup A, C, Y dan W-135. Berbagai pertimbangan lain telah mendasari penggunaan vaksin meningitis meningokokus tetravalen bagi jemaah haji dan umroh Indonesia pada 2002.
Daftar Pustaka
1. Frasch C E. Meningococcal Vaccines. Past, Present and Future. Meningococcal Diasease. Edited by Keith Cartwright. John Wiley and Sons Ltd.1995; 245-263.
2. WHO. Control of epidemic Meningococcal disease. WHO Practical Guidelines.1995. 47-48.
3. Muljati Prijanto. Hasil pemeriksaan usap nasofaring dari jemaah haji dan vaksin meningitis meningokokus tetravalen. Disampaikan pada evaluasi penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia Tahun 2001. Bandung 30 April-3 Mei 2001; 1-7.
4. WHO. Meningococcal disease, serogroup W135-update. http://www.who.int/disease-outbreak.news/n2000/may/12may2000.html
5. WHO. Meningococcal disease, serogroup W135 - Update 2. http://www.who.int/disease-outbreak.news/n2001/22 June2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar