Sabtu, 30 Maret 2013

Gastro Esophagus Refluks Disease (GERD)

Gastro Esophagus Refluís Disease (GERD)


Definisi GERD ádalah gerakan membalik isi lambung menuju esofagus. GERD juga mengacu pada berbagai kondisi gejala klinik atau perubahan histologi yang terjadi akibat refluks gastroesophagus. Ketika esofagus berulang kali kontak dengan material refluks untuk periode yang lama dapat terjadi inflamasi esofagus (esofagitis refluks) dan dalam beberapa kasus berkembang menjdi erosi esofagus (esofagitis erosi).

Secara Patofisiologi GERD ini disebabkan karena esofagus terlalu sering terpapar dengan asam dari lambung/gastric, sering kali disebabkan oleh kerusakan tekanan LES (Coger Esophageal Sphincter),. Faktor agresif yang menyebabkan kerusakan esofagus akibat refluís ini adalah sam lambung, pepsin, asam empedu, dan enzim páncreas.

Gejala yang jelas terlihat pada refluks gastroesophagus dan esofagitis ini adalah rasa panas dalam perut atau pirosis (digambarkan sebagai sensasi hangat atau panas yang dapat menyambar ke leher dan semakin memburuk dengan adanya aktivitas yang memperburuk refluks, co: posisi terlentang, terlalu membungkuk, makan makanan yang tinggi kadar lemaknya), gejala lain ádalah hipersalina, bersendawa dan muntah. Gejala yang tidak khas co: asma non alergi, batuk kronik, serak, faringitis, erosi gigi, rasa sakit pada dada seperti angina.

Makanan dan obat-obatan yang dapat memperburuk gejala GERD dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu:
1. Menurunkan tekanan LES (Coger Esophageal Sphincter) contoh makanannya adalah kopi, coklat, kola, teh, karminatif (peppermint, spearmint), makanan berlemak, bawang putih, dan bawang. Sedangkan obat obatnnya adalah obat golongan antikolinergik, barbiturat, Diazepam, Kafein, Dihidropiridin saluran Ca-bloker, Dopamin, Estrogen,Etanol, Isoproterenol, narkotik, nikotin, nitrat, phentolamine, progesteron, dan teofilin.
2. Langsung mengiritasi mucosa esofagus contoh makanannya hádala yang pedas, jus jeruk, jus tomat dan kopi. Contoh obat-obatnnya adalah Alendronat, Aspirin, Besi, NSAID, Kuinidin, dan NaCl.

Untuk mendeteksi/mendiagnosa adanya penyakit ini dapat dilakukan dengan cara melihat riwayat klinis, termasuk gejala yang muncul, dan factor resiko yang berhubungan, Endoskopi, Radiografi Barium, Monitoring pH esofagus selama 24 jam, Esofageal manometry, dan pemberian Omeprazol secara empirik kemudian hasilnya diamati.

Tujuan dari terapi yang dilakukan pada pasien GERD bertujuan untuk meringankan atau mengurangi gejala, mengurangi frekuensi dan durasi refluís gastrofagus, meningkatkan penyembuhan mucosa yang terluka, dan mencegah berkembangnya komplikasi.

Pendekatan Terapi yang dilakukan bibedakan atas 3 fase, yaitu;
1. Fase I (Gejala Ringan) yang dilakukan adalah merubah gaya hidup + pengunaan Antasid (Malos atau Mylanta) dan atau Dosis rendah untuk OTC antagonis receptor-H2 (Cimetidin, Famotidin, Nizatidin, Ranitidin). Dilakukan selama 2 minggu jira Belem berhasil maka dilanjutkan dengan fase II

2. Fase II (Gejala GERD) yaitu dengan modifikasi pola hidup + Dosis stándar dari antagonis receptor –H2 untuk 6-12minggu (Cimetidin 400 mg, Famotidin 20 mg, Nizatidin 150 mg, Ranitidin 150 mg)
Atau dengan perubahan pola hidup dan penggunaan obat penghambat pompa proton 4-8 minggu yaitu (Esomeprazol 20 mg/hr, Lansoprazole 15-30 mg/hr, Omeprazol 20 mg/hr, Pantoprazol 40 mg/hr, dan Rabeprazol 20 mg/hr) + penggunaan obat penghambat pompa proton 8-16 minggu (Esomeprazol 20-40 mg/hr, Lansoprazole 30 mg/hr, Omeprazol 20 mg/hr, Pantoprazol 40 mg/hr, dan Rabeprazol 20 mg/hr).
Atau dengan penggunaan antagonis receptor –H2 dalam dosis tinggi selama 8-12 minggu yaitu (Cimetidin 400 mg atau 800 mg, Famotidin 40 mg, Nizatidin 150 mg, Ranitidin 150 mg)

3. Fase III
Yaitu dengan terapi interventional (perasi antirefluks atau terapi endoluminal).

*Rangkuman catatan kuliah waktu S1 Farmasi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar