Selasa, 13 Juli 2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sediaan parenteral adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml atau disubut juga infus. Sediaan injeksi telah digunakan untuk pertama kalinya pada manusia sejak tahun 1660. Akan tetapi perkembangan injeksi baru berlangsung tahun 1852, khususnya pada saat diperkenalkannya ampul gelas oleh Limousin ( Perancis ) dan Friedleader ( Jerman ), seorang apoteker. Injeksi merupakan pemakaian dengan cara penyemprotan larutan atau suspensi ke dalam tubuh untuk tujuan terapeutik atau diagnostik. Injeksi dapat dilakukan ke dalam aliran darah, ke dalam jaringan atau organ. Obat infus biasanya diindikasikan untuk keadaan obat yang yang tidak stabil atau aktif dalam saluran pencernaan, respon obat yang diperlukan cepat dan diperlukan perbaikan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam praktikum ini adalah untuk :
1. Memperoleh gambaran mengenai praformulasi sediaan infus serta membuat dan mengevaluasi hasil dari sediaan yang dibuat.
2. Mengetahui mengenai pengertian, pembagian, cara pembuatan, perhitungan dosis, sterilisasi dan penyerahan suatu sediaan obat parenteral, khususnya infus.

1.3 Tujuan Formulasi Sediaan

Formulasi sediaan disusun berdasarkan zat aktif yang digunakan, sehingga perlu diperhatikan ada atau tidaknya interaksi yang terjadi dengan zat tambahan yang digunakan agar obat/sediaan dapat digunakan secara efektif, aman dan dapat memenuhi syarat-syarat resmi yang telah ditentukan.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Definisi
Sediaan Injeksi Volume Besar adalah larutan produk obat yang disterilisasi akhir dan dikemas dalam wadah dosis tunggal dengan kapasitas 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia. Parenteral volume besar meliputi infus intravena, larutan irigasi, larutan dialisis peritonal & blood collecting units with antikoagulant (Lachman Parenteral vol 1 hal 249). Definisi yang diperluas dari sediaan parenteral volume besar adalah produk obat dengan pembawa air dalam bentuk konterner dosis tunggal, disterilkan secara terminal dengan kapasitas 100 mililiter atau lebih, yang digunakan atau diberikan kepada manusia. (Goeswien Agoes, Sediaan Farmasi Steril).
Infus merupakan sediaan steril, berupa larutan atau emulsi dengan air sebagai fase kontinu; biasanya dibuat isotonis dengan darah. Prinsipnya infus dimaksudkan untuk pemberian dalam volume yang besar. Infus tidak mengandung tambahan berupa pengawet antimikroba.Larutan untuk infus, diperiksa secara visible pada kondisi yang sesuai, adalah jernih dan praktis bebas partikel-partikel. Emulsi pada infus tidak menujukkan adanya pemisahan fase. (British Pharmaceutical, 2002)

2.2. Indikasi, Keuntungan dan Kerugian

2.2.1 Rute pemakaian secara intravena diindikasikan untuk keadaan : (The Pharmaceutical Codex, ed.12 hal 415)
1. Obat tidak dapat diabsorpsi secara oral
2. Terjadinya absorpsi yang tidak teratur setelah penyuntikan secara intramuskular
3. Obat menjadi tidak aktif dalam saluran pencernaan
4. Perlunya respon yang cepat
5. Pasien tidak dapat mentoleransi obat atau cairan secara oral.
6. Rute pemberian secara intramuskular atau subkutan tidak praktis
7. Obat harus terencerkan secara baik atau diperlukannya cairan pembawa
8. Obat mempunyai waktu paruh yang sangat pendek dan harus diinfus secara terus menerus
9. Diperlukan perbaikan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
10. Obat hanya bersifat aktif oleh pemberian secara intravena
2.2.2 Keuntungan pemberian secara intravena (Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, hal 401)
1. Dapat digunakan untuk pemberian obat agar bekerja cepat, seperti pada keadaan gawat.
2. Dapat digunakan untuk penderita yang tidak dapat diajak bekerja sama dengan baik, tidak sadar, tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan melalui oral.
3. Penyerapan dan absorbsi dapat diatur.
2.2.3 Beberapa kemungkinan terjadinya kerugian dalam pembuatan infus seperti : (The Pharmaceutical Codex)
1. Emboli udara
2. Inkompatibilitas obat
3. Hipersensitivitas
4. Infiltrasi atau ekstravasasi
5. Sepsis
6. Thrombosis atau phlebitis
7. Kerugian yg lain: (Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi)
• Pemakaian sediaan lebih sulit dan lebih tidak disukai oleh pasien.
• Obat yang telah diberikan secara intravena tidak dapat ditarik lagi.
• Lebih mahal daripada bentuk sediaan non sterilnya karena lebih ketatnya persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis bebas partikel).

2.3 Persyaratan Infus Intravena (FI edisi III hal 12)
a. Sediaan steril berupa larutan atau emulsi
b. Bebas pirogen
c. Sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah
d. Infus emulsi dibuat dengan air sebagai fase luar, diameter fase dalam tidak lebih dari 5 m
e. Infus intravena tidak mengandung bakterisida dan zat dapar
f. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas partikel
g. Emulsi untuk infus intravena setelah dikocok harus homogen dan tidak menunjukkan pemisahan fase, diameter globul fase terdispersi untuk infus intravena harus dinyatakan
h. Volume netto / volume terukur tidak kurang dari nilai nominal
i. Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal.
j. Penandaan : (Farmakope Indonesia Edisi IV)
Etiket pada larutan yang diberikan secara intra vena untuk melengkapi cairan, makanan bergizi, atau elektrolit dan injeksi manitol sebagai diuretika osmotik, disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya.
Jika keterangan mengenai osmolalitas diperlukan dlm monografi masing-masing, pada etiket hendaknya disebutkan kadar osmolar total dlm miliosmol per liter.
k. Memenuhi syarat injeksi. Kecuali dinyatakan lain, syarat injeksi meliputi (Farmakope Indonesia Edisi III):
• Keseragaman bobot
Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yg tertera pada daftar berikut, kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera.
Bobot yang tertera pada 0etiket Batas penyimpangan %
Tidak lebih dari 120 mg + 10
Antara 120 – 300 mg ± 7,5
300 mg atau lebih ± 5
• Keseragaman volume.
Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di bawah ini,

Volume pada etiket Volume tambahan yang dianjurkan
Untuk cairan encer Untuk cairan kental
0,5 ml 0,1 ml 0,12 ml
1 ml 0,1 ml 0,15 ml
2 ml 0,15 ml 0,25 ml
5 ml 0,3 ml 0,5 ml
10 ml 0,5 ml 0,7 ml
20 ml 0,6 ml 0,9 ml
30 ml 0,8 ml 1,2 ml
50 ml atau lebih 2% 3%
• Pirogenitas (tercakup di atas)
Untuk sediaan lebih dari 10 ml, memenuhi syarat Uji Pirogenitas yang tertera pada Uji Keamanan Hayati.
• Sterilitas (tercakup di atas)
Injeksi harus memenuhi syarat Uji Sterilitas yang tertera pada Uji Keamanan Hayati.
• Penandaan : Pada etiket harus juga tertera, untuk:
a. injeksi berupa suspensi: ”kocok dahulu”
b. injeksi yang mengandung antibiotik: kesetaraan bobot terhadap UI dan daluwarsa.
c. serbuk untuk injeksi: 1. volume pelarut atau zat pembawa yg diperlukan, dan 2. jika akan digunakan dilarutkan dalam pelarut atau zat pembawa yang tertera pada etiket dan harus segera digunakan.
2.4 Perbedaan infus dan injeksi

No Kriteria Injeksi Infus
1 Pemberian Terapi melalui suntikan Pengganti cairan plasma, elektrolit, darah, dll,
Memberi tambahan kalori
2 Metode pemberian Suntikan Tetesan
3 Alat Alat suntik Peralatan infuse
4 Volume pemberian Maks 20-30 ml (lazim 10 ml) Bisa sampai beberapa liter
5 Lama pemberian Maks 15-20 menit (lazim 1 menit) Bisa beberapa jam
6 Pembawa Air, gliserin, propilenglikol, minyak lemak, etil oleat, dll Air
7 Isohidris Bila memungkinkan baru dilakukan Diperlukan
8 Isotonis Bila memungkinkan baru dilakukan Mutlak perlu
9 Tekanan osmotik Tidak penting artinya Penting untuk larutan yang mengandung molekul koloid seperti dekstran, gelatin, PVP, dll
10 Isoioni Tidak penting Pada beberapa infus harus diperhatikan
11 Bebas pirogen Tidak ditekankan kecuali jika 1 kali suntik lebih dari 10 ml Mutlak perlu
12 Wadah Ampul, vial Botol infus
13 Larutan Dapar BOLEH menggunakan dapar TIDAK BOLEH menggunakan dapar

(Benny Logawa hlm 23, Di TS 2005 ditulis pustakanya:Wattimena, Dasar-Dasar Pembuatan dan Resep-Resep Obat suntik, Hal 103 tp buku ini sdh tdk ada di perpus Dep.FA)

2.5 Parenteral volume besar telah digunakan untuk:
(Lachman, Pharmaceutical Dosage Form:Parenteral
1) Mensuplai kebutuhan air, elektrolit, dan karbohidrat sederhana yang diperlukan oleh tubuh.
2) Bertindak sebagai pembawa untuk obat-obat yang dapat bercampur dengan larutan infus.
3) Mensuplai kebutuhan nutrisi pada saat bahan makanan tidak dapat diberikan secara oral (TPN=Total Parenteral Nutrition).
4) Sebagai larutan untuk memperbaiki keseimbangan asam-basa tubuh.
5) Bertindak sebagai cairan pengganti plasma.
6) Meningkatkan diuresis pada saat tubuh banyak menahan cairan.
7) Bertindak sebagai agen dialisis pada pasien penderita gagal ginjal.






BAB III
FORMULASI INJEKSI

3.1 PENGKAJIAN PRAFORMULASI
Monografi bahan yang digunakan, antara lain :

1. Natrii Chloridum
Sinonim : Sodium Chloride
Rumus molekul : NaCl
BM : 58,44
Pemerian : serbuk kristal putih; tidak berwarna; mempunyai rasa garam
pH : 6,7-7,3
Kelarutan : sedikit larut dalam etanol; larut dalm 250 bagian etanol 95%; larut dalam 10 bagian gliserin; larut dalam 2,8 bagian air dan 2,6 bagian pada suhu 100oC.
Fungsi : agen tonisitas ; sumber ion Natrium
OTT : larutan natrium klorida bersifat korosif dengan besi; membentuk endapan bila bereaksi dengan perak; garam merkuri; agen oksidasi kuat pembebas klorine dari larutan asam sodium klorida; kelarutan pengawet nipagin menurun dalam larutan sodium klorida.
Titik lebur : 801oC
Titik didih : 1439oC
Stabilitas : larutan sodium klorida stabil tetapi dapat menyebabkan perpecahan partikel kaca dari tipe tertentu wadah kaca. Larutan cair ini dapat disterilisasi dengan cara autoklaf atau filtrasi. Dalam bentuk padatan stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan tempat kering.


2. Kalsium Laktat
Kalsium Laktat (1:2) hidrat (41372-22-9)
C6H10CaO6. X H2O
Pentahidrat [63690-56-2] BM 308,30
Anhidrat [814-80-2] BM 218,22
Kadar : Kalsium laktat mengandung tidakkurang dari 98% dan tidak lebih dari 101 %
C6H10C4O6, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian : Serbuk granul putih ; praktis tidak berbau, bentuk pentahidrat sedikit mekar
pada suhu 120oC menjadi bentuk anhidrat.
Kelarutan : Kalsium laktat pentahidrat larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol.

3. Kalii Chloridum
Sinonim : Potassium Chloride
Rumus molekul : KCl
BM : 74,55
Pemerian : tidak berbau; kristal tidak berwarna; atau bubuk kristal putih, rasa garam yang tidak menyenangkan.
pH : 7 untuk larutan pada suhu 15oC
Kelarutan : praktis tidak larut dalam acetone dan eter; larut dalam 250 bagian etanol 95%; larut dalam 14 bagian gliserin; larut dalam 2,8 bagian air dan 1,8 bagian pada suhu 100oC.
Fungsi : agen tonisitas ; sumber ion Kalium
OTT : larutan potassium klorida bereaksi kuat dengan bromine triflouride dan dengan campuran asam sulfur dan permanganate kalium. Kehadiran asam klorida, NaCl, dan MgCl menurunkan kelarutan KCl dalam air. Larutan KCl mengendap dengan garam perak dan lead. Larutan iv KCl OTT dengan protein hidrosalisilat.
Titik lebur : 790oC
Titik didih : menyublim pada suhu 1500oC
Stabilitas : larutan KCL dapat disterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi. KCl stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, tempat sejuk dan kering.

4. Calcii Chloridum
Sinonim : Calcium Chloride Dihydrate
Rumus molekul : CaCl2.H2O
BM : 147
Pemerian : bubuk kristal, higroskopis, tidak berbau, tidak berwarna atau putih
pH : larutan 5% dalam air memiliki pH 4,5-9,2.
larutan 1,7% dalam air memiliki keadaan yang isoosmotik dengan serum.
Kelarutan : larut dalam 1,2 bagian air; larut dalam 0,7 bagian air mendidih; larut dalam 4 bagian alcohol; larut dalam 2 bagian alcohol mendidih
Fungsi : agen tonisitas ; sumber ion Kalsium
OTT : OTT dengan larutan Karbonat, posfat, sulfat dan tartrat; dengan amphotericin, cephalothin sodium, Klorfeniramina maleat, Klortetrasiklin, HCl, Oksitetrasiklin HCl, dan tetrasiklin HCl. Kadang-kadang OTT yang tergantung pada konsentrasi yang terjadi dengan Natrium bikarbonat.
Stabilitas : simpan dalam wadah yang tertutup rapat

5. Aqua pro injeksi
Fungsi : sebagai bahan pembawa sediaan iv
Pemerian : cairan jernih / tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Kelarutan : dapat bercampur dengan pelarut polar dan elektrolit
OTT : Dalam sediaan farmasi, air dapat bereaksi dengan obat dan zat tambahan lainnya yang mudah terhidrolisis (mudah terurai dengan adanya air atau kelembaban).
Air dapat bereaksi kuat dan cepat dengan logam alkali dan zat pengoksidasinya, seperti Calsium oksidadan Mg oksida.
Air juga bereaksi dengan garam anhidrat menjadi bentuk hidrat, serta bereaksi dengan bahan organik dan kalsium carbide.
Stabilitas : air stabil dalam setiap keadaan (es, cairan, uap panas).
Air untuk penggunaan khusus harus disimpan dalam wadah yang sesuai.
Pembuatan : Aqua destilata dipanaskan sampai mendidih dipanaskan 40 menit  API bebas CO2


TABEL I
REKOMENDASI
RANGKUMAN HASIL PENGKAJIAN PRA-FORMULASI

No Masalah Diinginkan Pemecahan Pemilihan Alasan
1 Dibuat sediaan parenteral Membuat sediaan yang cocok untuk stabilitas zat aktif • Sedian Parenteral Volume Kecil (injeksi)
• Sedian Parenteral Volme Besar (infus)

Sedian Parenteral Volume Besar
(injeksi)
Injeksi ringer digunakan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang sehingga diperlukan dalam jumlah besar maka dibuat dalam bentuk sedian parenteral volume besar
2 Rute pemberian untuk injeksi ringer Diinfusi langsung tepat ke sasaran Rute pemberian yang benar
Im
Iv
Sc iv Karena pada umumnya, diinginkan obat langsung masuk ke dalam peradaran darah dan cepat efek terapi
3 Sediaan dibuat infus Dapat tercampur dengan konsentrasi dalam tubuh Dibuat sediaan yang bersifat
 Isotonis
 Hipotonis
 Hipertonis isotonis Infus dapat digunakan dengan tepat maka konsentrasinya harus isotonis dengan plasma darah
4. Adanya reaksi OTT antara CaCl2 dengan gas CO2 pada proses pembuatan Sediaan yang yang efektif digunakan secara iv Pembawa yang digunakan
 API
 API bebas O2
 API bebas CO2 API bebas CO2 Penghilangan gas CO2 pada API sebelum pencampuran, dapat menghindari reaksi OTT dengan CaCl2 yang dapat menghasilkan endapan CaCO3.
5 Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya pirogen Sediaan steril terhindar dari pirogen Zat karbon aktif dengan kadar
 < 0,1%
 0,1 %
 > 0,1 % Zat karbon aktif dengan kadar 0,1% Kadar zat karbon aktif 0,1 % efektif mengikat pirogen dalam larutan, yang dapat bekerja pada suhu 60-70oC setelah pemanasan 15 menit. Apabila kadar zat karbon aktif kurang atau lebih dari 0,1% menyebabkan tidak aktifnya pengikatan dan penyerap pirogen, dikhwatirkan tertinggalnya pirogen dalam sediaan.
6. Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya mikroorganisme Sediaan steril terhindar dari mikroorganisme Dilakukan proses sterilisasi
• sterilisasi aseptis
• sterilisasi akhir Sterilisasi akhir Karena zat aktif tahan terhadap lembab dan pemanasan
7 Penandaan berdasarkan golongan obat bermacam-macam
Penandaan golongan yang sesuai sebagai petunjuk penggunaan konsumen
=obat keras
=Obat bebas terbatas

=Obat bebas

Karena penggunaan sediaan injeksi harus dengan resep dokter dan perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis
TABEL II
SPESIFIKASI DAN SYARAT YANG DIINGINKAN

Rancangan Produk

1 Nama Produk Lakmi Ringer® injeksi
2 Nama Sediaan Jadi Injeksi Ringer Laktat
3 Nama Bahan Aktif Komponen Injeksi Ringer Laktat
4 Bentuk Sediaan Injeksi
5 Nama Sediaan Dasar Komponen injeksi ringer Laktat
6 Dosisi Lazim
NILAI SYARAT RUJUKAN
7 Kadar Bahan Aktif
8 Pemerian :
Bentuk Cairan Martindale
Warna Bening Martindale
Bau Tidak berbau Martindale
Rasa Tidak berasa Martindale
Konsisten
9 Kelarutan :
 Dalam Air
 Dalam Etanol 95%
 Dalam Asam mineral encer
 Dalam Alkali
Hidroksida
 Dalam Eter
 Dalam Benzen
 Dalam gliserol Praktis larut dalam air
-
-
-

-

-
- FI 3

10 Wadah dan
Penyimpanan Pada botol infus
Wadah Botol kaca bening FI 3
Penyimpanan Dalam Wadah
Tertutup rapat FI 3
Terisi250 ml FI 3






























BAB IV
METODE PRAKTIKUM

Sediaan Parenteral Volume Besar

1. Data Zat Aktif
No Daftar Obat Dosis Lazim Kelarutan pH Jenis Sterilisasi Khasiat
1 Natrii Chloridum
- sedikit larut dalam etanol; larut dalm 250 bagian etanol 95%; larut dalam 10 bagian gliserin; larut dalam 2,8 bagian air dan 2,6 bagian pada suhu 100oC. 6,7-7,3 Sterilisasi akhir agen tonisitas ; sumber ion Natrium
2 Kalii Chloridum - praktis tidak larut dalam acetone dan eter; larut dalam 250 bagian etanol 95%; larut dalam 14 bagian gliserin; larut dalam 2,8 bagian air dan 1,8 bagian pada suhu 100oC. 7 untuk larutan pada suhu 15oC Sterilisasi akhir agen tonisitas ; sumber ion Kalium
3













Calcii Chloridum
























larut dalam 1,2 bagian air; larut dalam 0,7 bagian air mendidih; larut dalam 4 bagian alcohol; larut dalam 2 bagian alcohol mendidih

- larutan 5% dalam air memiliki pH 4,5-9,2.
- larutan 1,7% dalam air memiliki keadaan yang isoosmotik dengan serum. Sterilisasi akhir










agen tonisitas ; sumber ion Kalsium
4 Kalsium Laktat - larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol
- Sterilisasi Akhir agen tonisitas ; sumber ion Laktat



2. Formulasi Standar dari Fornas :
Formula Ringer
Fornas Hal 203
Tiap 500 ml mengandung :
R/ Natrii Chloridum 4,3 g
Kalii Chloridum 150 mg
Calcii Chloridum 2,4 g
API ad 500 ml
Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal
Catatan : 1. pH 5 sampai 7.5
2. Tidak boleh mengandung bakterisida
3. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C, segera setelah dibuat
4. Bebas Pirogen
5. Pada etiket harus juga tertera banyaknya ion Kalium, ion Ca, Ion Klorida dan ion Natrium masing-masing dalam mEq per liter
6. diinjeksikan secara infusi

3. Tak Tersatukan Zat Aktif (OTT)
Zat CaCl2 akan bereaksi dengan ags CO2 menghasilkan endapan CaCO3.
Reaksi yang terjadi :
CaCl2 + CO2  CaCO3

4. Usul Penyempurnaan Sediaan
• Zat-zat yang digunakan dalam formulasi sedian untuk injeksi ringer dengan volume 250 ml harus isotonis, isohidri, dan bebas pirogen.
• Pembawa yang digunakan harus bebas dari gas CO2.

5. Alat dan Cara Sterilisasinya

Sterilisasi Injeksi Ringer dengan sterilisasi autoklaf.
Sterilisasi dengan autoklaf berarti zat aktif tahan terhadap pemanasan sehingga untuk mendapatkan sediaan yang steril untuk injeksi ringer dilakukan proses sterilisasi akhir.
No. Nama Alat Jumlah Cara sterilisasi Waktu
1. Erlenmeyer 2 Oven 170oC 30 menit
2. Beaker glass 2 Oven 170oC 30 menit
3 Kaca arloji 4 Oven 170oC 30 menit
4 Botol infus 1 Oven 170oC 30 menit
5. Batang pengaduk 1 Oven 170oC 30 menit
6. Pinset 1 Oven 170oC 30 menit
7. Spatula 1 Oven 170oC 30 menit
8. Gelas ukur 1 Autoklaf 115oC 30 menit
9. Corong 1 Autoklaf 115oC 30 menit
10. Kertas saring 2 Autoklaf 115oC 30 menit
11. Tutup karet infus 1 Autoklaf 115oC 30 menit
12 Botol Infus 1 Oven 170oC 30 menit

6. Formula akhir Ringer Laktat

R/ NaCl 0,62
KCl 0,033
CaCl2 0,014
Na Laktat 0,3
API ad 100 ml

(Pada perhitungan digunakan Na laktat dan pada praktikum digunakan Kalsium laktat)

6.1 Perhitungan Ringer Laktat

Syarat pada FI IV :
Tiap 100 ml mengandung :
1. 285 mg – 315 mg Na+ → sebagai NaCl & C3H5NaNO3
2. 14,1 mg – 17,3 mg K+ →setara 27 mg – 33 mg KCl
3. 4,9 – 6 mg Ca2+ → Ca2+ setara 18 mg – 22 mg CaCl2.2H2O
4. 368 mg – 408 mg Cl- → Cl- sebagai NaCl,KCl, CaCl2.2H2O
5. 231 mg – 261 mg laktat → 261 mg laktat C3H5O ~ 290 mg – 330 mg C3H5NaO3

A. NaCl 0,62 gram dalam 100 ml
a. mg ion Na+ = 620 mg x 23 = 243,7 mg
58,5
Meq Na+ = 243,7 x 1 = 10,659
23

b. mg ion Cl- = 620 mg x 35,5 = 376 mg
58,5
Meq Cl - = 376 x1 = 10,6
35,5

B. KCl 0,033 gram dalam 100 ml
a. mg ion K+ = 33 x 39,1 = 17,3
74,6
meq K+ = 17,3 x 1 = 0,442
39,1
b. Mg ion Cl- = 33 mg x 35,5 = 15,7
74,6
meq Cl- = 15,7 x 1 = 0,442
35,5

C. CaCl2 14 mg dalam 100 ml
a. mg ion Ca2+ = 14 mg x 40 = 5.045
111
b. mg ion Cl2 2- = 14 mg x 35,5 = 4,48
a) meq Ca2+ = 5,045 x 2 = 0,25
40
b) meq Cl- = 4,48 x 2 = 0,25
35,5
D. Na laktat = 0.32 gram dalam 100 ml
a. mg ion Na = 300 x 23 = 61,6
112
b. mg ion laktat = 300 x 89 = 238
112
a) meq Na+ = 61,6 x 1 = 2,67
23
b) meq laktat = 238 x 1 = 2,67
89

Mengecek jumlah masing – masing ion sesuai dengan standar FI IV
1. Na+ = 243,7 mg + 61,6 mg = 305,3 mg
2. K+ = 17,3 mg (14, 1 mg – 17,3 mg)
3. Ca2+ = 5,76 mg (4,9 mg – 6 mg)
4. Cl- = 382 + 15,7 + 5,11 = 402,28


Meq ion Na+ = 10,6 + 61,6 = 13,62
K+ = 0,442 13,922
Ca2+ = 0,25
Cl- = 10,6 + 0,442 + 0,25 = 11,292
Laktat = 2,67 13,922

Perhitungan Osmolaritas
Bahan BM Jumlah ion Konsentrasi M osmole/l
NaCl 58,5 2 6,2 212
KCl 74,6 2 3,3 8,8
CaCl2 111 3 0,16 3,78
Na Laktat 112 2 3,2 53,6
Jumlah 278,18

Rumus
M osmole/l = g/l zat x 1000 x jumlah ion
BM zat

NaCl = M osmole/l = g/l zat x 1000 x jumlah ion
BM zat

= 6,2 x 1000 x 2
58,5
KCl = M osmole/ l = g/l zat x 1000 x jumlah ion
BM zat
0,33 x 1000 x 2
74,6
= 8,8

CaCl2 = M osmole/l = g/l zat x 1000 x jumlah ion
BM zat
= 0,14 x 1000 x 3
111
= 3,78
Na laktat = M osmole/l = g/l zat x 1000 x jumlah ion
BM zat
= 3 x 1000 x 2
112
= 53,6
Jumlah M osmole/l = 278,18 (Masuk ke dalam rentan isotonis)

Perhitungan Tonisitas
NaCl = 0,62 x 1 = 0,62
KCl = 0,033 x 0,76 = 0,0251
CaCl2 = 0,014 x 0,53 = 0,0098
Na laktat = 0,3 x 0,52 = 0,52

Isotonis secara NaCl 0,9 % = 0,9 gram/100 ml
Kekurangan NaCl = 0,9 – 0,8289 gram
= 0,0711
= 71,7 mg

Volume infus 250 ml
Kelebihan volume tiap wadah untuk cairan encer untuk sediaan dengan volume lebih dari 50 ml, yaitu 2% (FI IV 1044)

250 x 2 = 5
100
250 + 5 mml = 255 ml
Kelebihan volume total untuk antisipasi kehilangan selama proses = 10%
10 % x 255 ml = 255 ml
255 + 2,55 = 2800,5
Digenapkan menjadi 300 ml

Penimbangan Bahan
- NaCl = 0,62 x 5 % = 0,0017 gram
= 0,034 + 0,0017 = 0,0357 gram
= 0,0357 x 300 ml = 0,1071 gram / 107 mg
100 ml
- KCl = 0,033 x 5% = 0,00165 gr
= 0,33 + 0,00165 = 0,0347 gram
= 0,0347 gram x 300 ml = 0,104 gram/ 104
100 ml
- CaCl2 = 0,014 x 5% = 0,0007
= 0,014 + 0,0007 = 0,00147
= 0,0147 x 300 ml = 0,0441 / 44 mg
100 ml
- Na laktat = 0,3 x 5% = 0,015 gram
= 0,3 gram + 0,015 = 0,315 gram
= 0,0315 x 300 ml = 0,945 gram/ 945 mg
100 ml
- Ad API = 300 ml

7. Prosedur Pembuatan

1. Timbang semua bahan yang diperlukan, masukkan ke dalam gelas piala yang telah dikalibrasi 300 ml.
2. Buat API dengan cara mendidihkan aquades di atas penangas air, dan dihitung 30 menit setelah mendidih.
3. Karbon aktif dimasukkan ke dalam oven selama 15 menit pada suhu 60 – 70oC
4. Melarutkan setiap bahan (NaCl, KCl, CaCl2, Ca Laktat) dengan API pada cawan hinggal larut homogen
5. Mencampurkan semua bahan yang telah dilarutkan pada gelas beaker
6. Timbang 0.1% zat karbon aktif masukkan dalam larutan. Gelas piala ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk.
7. Hangatkan larutan pada suhu 50-70oC selama 15 menit sambil sesekali diaduk
8. Kertas saring ganda terlipat, dibasahi dulu dengan air bebas pirogen (dibuat seperti larutan bebas pirogen).
9. Pindahan corong dan kertas saring ke erlenmeyer steril bebas pirogen
10. Saring larutan hangat-hangat ke dalam erlenmeyer
11. Membilas botol infus dengan air bebas pirogen
12. Ukur volume larutan dalam gelas ukur tepat 250 ml dan isikan langsung dalam botol infus 250 ml








BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN EVALUASI
1. Kejernihan
Pengujian visual ditujukana ada atau tidaknya partikel yang tidak larut, khususnya bahan melayang dan serpihan gelas. Cara :
• Botol infus diputar 180o didepan suatu latar belakang yang gelap.
• Amati kejernihannya
Pada pengujian ini, kami hanya menggunakan pengamatan secara visual tanpa menggunakan lampu Atherman. Hasil yang kami lihat tidak tampak/tidak terlihat adanya partikel yang melayang.
Hasil pengamatan : Infus Ringer laktat jernih dan tidak ada partikulat yang melayang.
2. pH / tonisitas
Diukur dengan kertas lakmus, pengujian ini kami tidak melakukannya. namun, menggunakan perhitungan isotonis dengan humus white vincent, sedĂ­aan harus isotonis yaitu menpunyai pH sesuai dengan pH darah.
Hasil pengamatan : pH 6-7
3. Pirogenitas
Dilakukan dengan tes kelinci (tidak kami lakukan)
4. Volume
Pengujian dilakukan dengan alat ukur volume. Volume harus dilebihkan sesuai dengan jumlah yang tertera pada literatur ( pada pembuatan, volume yang ditambah 2% untuk sediaan lebih dari 50 ml 250 menjadi 255 ml dan dilebihkan 10% menjadi 280,5 ml dan digenapkan menjadi 300ml) namun pada pengisian pada wadah tetap pada volume semula. Volume yang kami gunakan yaitu volume 250 ml.

5. Kadar zat aktif
Dilakukan dengan spertrofotometer, HPLC atau alat lain yang cocok. (tidak kami lakukan)
6. Sterilitas
Pengujian dilakukan secara mikrobiologis dengan menggunakan medium pertumbuhan tertentu. Produk dikatakan bebas mikroorganisme bila Sterility Assuranve Level (SAL) = 10-6. bila pembuatan produk menggunakan aseptik maka SAL 10-4 . (tidak kami lakukan).

BAB V
PEMBAHASAN


Sediaan parenteral digolongkan menjadi dua berdasarkan jumlah volume yang diberikan adalah sediaan parenteral volume kecil (SPVK), contohnya injeksi dan sediaan parenteral volume besar (SPVB) contohnya infus. Sediaan parenteral volume besar adalah produk obat dengan pembawa air dalam bentuk konterner dosis tunggal, disterilkan secara terminal dengan kapasitas 100 mililiter atau lebih, yang digunakan atau diberikan kepada manusia (Goeswien Agoes, Sediaan Farmasi Steril). Pada praktikum steril kali ini adalah membuat sediaan parenteral volume besar yaitu infus. Sediaan yang akan dibuat adalah Ringer Laktat. Berdasarkan literatur pembuatan injeksi kortison asetat ini dilakukan secara Autoklaf.
Berdasarkan literatur Martindal dan Fornas Ringer laktat terdiri dari NaCl, KCl, CaCl2 dan Na Laktat, dari keempat bahan tersebut mempunyai sifat kelarutan, yaitu larut dalam air. Pada perhitungan digunakan Na Laktat tetapi karena pada labotarium persediaan Na Laktat tidak ada maka digunakan Ca Laktat. Pada perhitungan jumlah berat (miligram) setiap ion harus masuk ke dalam rentan pada literatur FI IV (Farmakope Indonesia Edisi IV) dan meq kation dan anion harus sama. Saat ini sebagai sinonim pengukuran isotonis suatu larutan, digunakan terminologi miliosmol ( disingkat m osmol) zat terlarut per liter larutan. Bobot satu osmole adalah bobot gram molekul suatu zat dibagi dengan jumlah ion atau spesies kimia (n) yang terbentuk pada waktu proses disolusi. Dan keterangan kadar osmolar pada etiket suatu larutan parenteral membantu untuk memberikan informasi pada dokter apakah larutan tersebut hipo-osmotik, iso-osmotik, atau hiper-osmotik. Kadar osmole setiap bahan, yaitu KCl, NaCl, CaCl2 dan Ca Laktat masih berada dalam rentan isotonis yaitu 270-328 m osmole/perliter.
Ada beberapa metode perhitungan tonisitas diantaranya adalah metode turunnya titik beku, ekivalensi NaCl dan metode Liso. Pada praktikum, perhitungan tonisitasnya menggunakan ekivalensi NaCl, yaitu sebagai suatu faktor yang dikonversikan terhadap sejumlah tertentu zat terlarut terhadap jumlah NaCl yang memberikan efek osmotik yang sama. Didapatkan hasil tidak isotonis sempurna atau isotonis hampir mendekati sempurna, yaitu NaCl yang dibutuhkan sebesar 71,7 mg. Volume infus yang akan dibuat adalah 250 ml, kelebihan volume Kelebihan volume tiap wadah untuk cairan encer untuk sediaan dengan volume lebih dari 50 ml, yaitu 2% (FI IV 1044) dan antisipasi kehilangan selama proses ditambahkan 10% dan setelah digenapkan volume sediaan yang akan dibuat sebesar 300 ml. Pada waktu penimbangan bahan sediaan ditambahkan 5%. Semua bahan Ringer Laktat dilarutkan dengan Aqua pro injeksi yang terdiri dari NaCl, KCl, CaCl2 dan Ca Laktat, pada ketiga bahan larut semua kecuali Ca Laktat tidak larut walaupun sudah dilarutkan beberapa ml (mili liter) Aqua pro Injeksi, sehingga Ca Laktat tidak digunakan dalam praktikum atau tahap selanjutnya. Sebelum di add kan 300 ml di tentukan pH infus Ringer Laktat didapatkan pHnya 6 karena sedikit mendekati rentan pH maka ditambahkan just pH NaOH sebanyak 2 tetes didapatkan pHnya 6,5 (rentan pH 6 mendekati pH 7). Penambahan karbon aktif 0,1 % digunakan untuk mengikat zat pirogen yang dapat menyebabkan demam atau kenaikan suhu tubuh. Setelah ditambahkan karbon aktif infus menjadi bewarna gelap dan kemudian infus dipanaskan pada suhu 60 -70 oC selama 15 menit untuk mengaktifkan karbon aktif mengikat pirogen. Pada waktu penyaringan, 3 ml saringan awal agar infus menjadi jernih karena karbon aktif. Karbon aktif selain mengikat zat pirogen dan sebagian zat aktif bisa terikat dengan karbon aktif maka pada waktu penimbangan zat aktif ditambahkan 5%. Sebelum dimasukkan ke dalam botol infus, botol infus dicuci dengan Air bebas pirogen.


























BAB VI
KESIMPULAN


Hal yang dapat disimpulkan dalam praktikum pembuatan sediaan injeksi volume besar yang berisi :
 Bahan aktif : Natrii Chloridum
Calcii Chloridum
Kalii Chloridum
 Zat Pengikat pirogen : Zat Carbon aktif
 Pembawa : API bebas O2
Menghasilkan sediaan yang
o Berwarna bening, jernih
o Dilihat dengan kasat mata tidak ada partikel yang melayang.
o pH 6,5 - 7

V.2 Saran

Adapun saran yang diusulkan demi memperbaiki kinerja serta hasil yang sesuai dengan CPOB adalah melengkapi keterbatasan alat dan bahan, sehingga semua proses pembuatan dapat berjalan dengan baik dari awal hingga akhir.



















DAFTAR PUSTAKA


1) Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia, edisi III, Jakarta.
2) Departemen kesehatan RI, 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV, Jakarta.
3) Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight Edition. The Parmaceutical Press, London. 1982.
4) LACHMAN, Leon. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1989.
5) ANSEL, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press),1989.
6) ISO Indonesia. Jakarta: PT Anem Kosong Anem (AKA), 1979.
7) MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT Infomaster.
8) Agoes, Goeswien, 2009. Sediaan Farmasi Steril. Bandung : Penerbit ITB.
9) Sulistiawati, Farida, 2009. Formulasi Sediaan Steril. Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta




























LAMPIRAN

Ringer Injection Netto : 250 ml

Tiap 250 ml mengandung
Natrium 34.05 meq
Kalium 1.105 meq
Kalsium 0,625 meq
Klorida 28,23 meq

Indikasi :
Mengatasi dehidrasi, menggantikan cairan ekstraseluler tubuh dan ion Cl yang hilang, mengembalikkan keseimbangan

Cara Pemberian
Intravena

REG : DKL1216101989A2 Syahid Pharmaceutical
BATCH : 1234STR Jakarta
Exp date : April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar